Rabu, 29 Februari 2012

Untuk Adikku yang Masih Remaja..


Masih jelas dalam rekaman saya ketika tadi siang menyaksikan segerombolan anak SMA sedang tawuran, beberapa saya lihat membawa clurit dan gesper. Sering memang kita mendengar di media massa tentang hal serupa, tetapi kejadian tadi siang yang saya lihat secara langsung benar-benar membekas. Bagaimana tidak, gerombolan putih abu-abu dengan clurit dan gesper terayun, siap untuk membunuh. Mereka bertingkah seperti punya sembilan nyawa serep.Miris sekali..

Ingatkah adikku,,ketika pagi tadi berpamitan pada orang tua kalian? Mereka, dengan wajah percaya bahwa anaknya akan menuntut ilmu dengan baik, dan menjadi manusia berguna. Mereka tidak tahu isi tas kalian clurit dan gesper dik,,Tak bisakah kalian hargai sedikit saja usaha mereka? Yang setiap hari berjuang untuk kehidupan kalian? Kalau mereka tahu isi tasmu, bagaimana kira-kira perasaan mereka? Sekali lagi saya mohon, jangan buat mereka kecewa,, mumpung mereka masih ada, bahagiakan mereka, dan buatlah mereka bangga pernah melahirkan kalian..

Ketika saya lihat ayunan cluritmu siang tadi, saya tahu kalian tidak bersungguh-sungguh, tidak ada wajah kebencian diwajah kalian,,ya,,karena kalian bukan pembunuh saya yakin..Saya masih lihat rona ceria, bekas wajah bocah kalian. Yang kalian cari eksistensi bukan? Kebanggaan untuk diakui kalau kalian hebat dan tidak terkalahkan? Kalau itu memang yang dicari, bahwa kalian memang paling jago berkelahi,,lalu kenapa kalian tidak duel saja,, satu-lawan-satu? Lalu yang kalah dengan legowo mengakui kekalahannya? Bukankah itu cara laki-laki bertarung? Pakai clurit, gesper, bagaimana bisa disebut hebat. Apa tidak sayang nyawamu dik??..Kalau kalian mati, apa ada yang memberimu gelar pahlawan?? Jangan Bodoh,,

Lewat ayunan cluritmu pula,,saya jadi berpikir jauuh kedepan, bukankah tangan-tangan itu yang akan berkarya beberapa tahun lagi? Tangan-tangan itu pula yang akan memimpin negeri ini? Ya, tangan dengan clurit dan gesper yang berayun..Lalu dari siapa kalian belajar itu dik? Pernahkah orang tua kalian, guru kalian mengajarkannya?? Tidak bukan,,lalu siapa yang yang kalian jadikan guru? 

Timbul pertanyaan selanjutnya,,apa iya saya masih terlalu pagi untuk bermimpi, bahwa Indonesia akan semakin maju, dengan masyarakat yang semakin beradab kalau kalian yang masih remaja berbuat seperti itu? Lalu siapa yang bertanggungjawab?? Sebuah pertanyaan besar…

2 komentar: