Rabu, 18 Januari 2012

Catatan Perjalanan : Semeru, Dimana Maut Menjadi Kawan..(part II)

Assalamualaikum wr.wb.

      Pada catatan perjalanan part II ini akan saya ceritakan perjalanan mendaki puncak Semeru dan juga lika-liku perjalanan di Semeru. Sebelum itu perlu saya jelaskan urutan perjalanan untuk mencapai puncak Mahameru. Jalur yang dilewati yaitu : Ranupane – Ranukumbolo – Oro-oro Ombo – Cemoro Kandang – Jambangan – Sumbermani – Kalimati – Arcopodo – Cemoro Tunggal – Mahameru. Jalur tersebut bukan pos pendakian, hanya tempat pemberhentian yang saat itu baru dibangun shelter di Kalimati.

Pendakian hari pertama..

upss..keliatan benderanya..
    Kembali menyambung dari kisah sebelumnya, sampailah kami rombongan ke pos pertama pendakian di Ranupane, Ranupane merupakan nama sebuah desa dimana terdapat danau Ranupane, pemandangan di pos pertama memang belum terlalu bagus, tapi hawa gunung sudah mulai terasa disini. Ranupane sendiri berada di ketinggian 2.200 mdpl. Sesampainya kami pada pos pertama kami kemudian melakukan registrasi pada petugas di pos Ranupane. Kaki langsung lemas ketika mendengar kabar bahwa pendakian ditutup karena diatas banyak terjadi kebakaran hutan, padahal saat itu sudah musim hujan. Kamipun berembug, kemudian memutuskan untuk meninggalkan pos Ranupane. Salah satu teman langsung mengusulkan agar kami langsung menuju Lombok untuk mendaki Gunung Kerinci, saya langsung menolaknya karena tidak sesuai dengan rencana awal. Akhirnya kami menuju permukiman untuk menanyakan kondisi sesungguhnya diatas. Berdasarkan informasi dari penduduk, diatas sebenarnya sudah aman untuk pendakian karena sudah memasuki musim hujan. Maka kamipun tetap melanjutkan pendakian melewati jalur yang “tidak resmi” lewat jalur Ayeg-ayeg – Ranukumbolo.

Padang sabana yang subhanallah indah..
    Jalur pendakian Ayeg-ayeg – Ranukumbolo tergolong berat bagi pendaki pemula seperti saya, kamipun jalan pelan-pelan karena rombongan memaklumi di pendakian pertama saya. Perjalanan Ayeg-ayeg – Ranukumbolo ditempuh dalam tempo 4 jam, termasuk lambat. Dalam hati saya hampir putus asa karena beratnya medan dan sepinya pendakian. Di perjalanan kami tidak menemukan rombongan lain. Kira-kira memasuki waktu ashar sampailah kami Ranukumbolo, sebelum sampai Ranukumbolo kami sudah dibuat tercengang dengan sabana dilembahnya yang luar biasa, disambut lagi dengan Ranukumbolo yang lebih menakjubkan lagi.. Subhanallah,, Allahu Akbar. melihat keindahan Ranukumbolo, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Ranukumbolo. Pemandangannya sangat indah, alhamdulillah bisa menikmatinya sambil camping ditepi danau. Luar biasa. Malam di Ranukumbolo terasa mempesona, kabut tipis turun menutupi permukaan danau. Suasana sangat dingin, dalam proses aklimatisasi ini saya sempat tidak dapat merasakan jari kelingking. Jadi, jari tangan serasa tinggal empat, sambil panik saya gosok kelingking saya, alhamdulillah sembuh.

Pendakian hari kedua..
 
Air yang langsung siap minum di Ranukumbolo
          Dimulai dari Ranukumbolo, setelah menginap semalam rasanya tubuh sudah menyatu dengan alam Semeru, timbul semangat lagi untuk melanjutkan perjalanan, hari itu kami menempuh jalur : Ranukumbolo – Oro-oro Ombo – Cemoro Kandang – Jambangan - Kalimati. Adapun Sumbermani sebenarnya bukan termasuk dalam jalur pendakian, hanya mata air yang dapat diakses dari Kalimati. Dalam pendakian yang panjang, sumber air merupakan bagian yang penting, karena sangat menguras tenaga ketika kita mengangkut air dalam jumlah banyak. Pendakian dari Ranukumbolo – Kalimati secara medan tidak terlalu berat, namun jaraknya cukup jauh. Dari toponim dapat kita bayangkan kondisi topografinya, misalnya “Oro-oro Ombo”, yang berarti lapangan besar, “Kalimati” berarti sungai yang sudah mati, merujuk topografi sungai yang relatif datar-rendah.

Ranukumbolo..amazing..
          Kira-kira siang hari kami sudah sampai di Kalimati, disana kami disambut oleh pekerja yang sedang membangun shelter untuk pendaki di Kalimati. Luar biasanya, mereka mengangkut semen, pasir, kayu besar untuk membangun shelter dari Ranupane tanpa merasa keberatan, luar biasa. Dalam rombongan itu juga sudah ada juru masak, karena mereka bekerja di Kalimati sudah selama 1 minggu lebih. Ketika kami sampai disana kebetulan para pekerja akan turun gunung, sehingga kami ditinggali shelter berikut perapian, perabot dapur dan juga nasi, ikan asin dan sayurnya. Lumayan, kami tidak perlu mendirikan tenda dan memasak mie instan di nasting lagi. Pendakian menuju puncak Mahameru sebaiknya dilakukan pada malam hari, karena pada pagi-sore hari yang dikahawatirkan adalah adanya kabut tebal dan ancaman gas beracun yang mulai keluar pada pagi hari. Menurut penuturan warga di Ranupane, gas beracun keluar pada pagi hari, sehingga jam 7.00 pagi harus sudah mulai turun dari puncak. Itulah yang menyebabkan Soe Hok Gie tewas pada 16 Desember 1969 akibat menghirup gas beracun. Oleh karena itu sampai di Kalimati kami memutuskan untuk menginap lagi, beristirahat sambil menunggu malam.

bersama pembangun shelter di Kalimati..
         Siang itu kami bersama merumuskan strategi untuk mendaki ke puncak Mahameru, karena beratnya medan, disepakati untuk meninggalkan barang-barang yang berat di shelter dan hanya membawa logistik ke puncak. Sore itu hujan turun dengan derasnya. Ternyata sesuai dengan toponimnya, “Kalimati” maka ketika hujan deras daerah itu menjadi sungai. Kurang tepat sebenarnya pembangunan shelter pada lokasi tersebut, airpun sampai masuk kedalam shelter, untung ada “amben” sehingga barang-barang dan tempat tidur dapat diamankan. Malamnya, kalau tidak salah jam 02.00 kami berangkat menempuh rute : Kalimati – Arcopodo – Cemoro Tunggal. Medan pendakian sangat berbahaya, akibat hujan yang deras malamnya, jalur yang kami lalui banyak yang longsor, jalur pendakian sudah banyak yang hilang akibat longsor. Dengan penerangan yang minim, berbekal lampu badai dan senter, kamipun mendaki dengan hati-hati. Sampai di Cemoro Tunggal sudah memasuki waktu subuh, kamipun sholat di Cemoro Tunggal. Bodohnya, ternyata kami ketinggalan kamera di shelter, jadi momen paling luar biasa itu tidak bisa diabadikan, tidak ada dokumentasi di puncak Mahameru (kecewa berat). Padahal ketika sudah berada di Cemoro Tunggal, kita merasa seperti diatas langit, karena awan tampak dibawah, luar biasa.

Tragedi banjir di Kalimati..
    
      Pada titik inilah perjuangan selanjutnya akan dimulai, pendakian yang paling berbahaya dan menguras tenaga,,Pendakian sampai puncak akan saya ceritakan pada posting selanjutnya, dimana victorious dan dangerous menjadi satu..

 Wassalamualaikum wr.wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar